Jika kebanyakan pemain game hanya bisa menghambur-hamburkan uang demi menikmati hobinya, Arie Setya Yudha justru menuai untung. Pasalnya, berkat kegemarannya bermain game tempur, dia sukses menembak peluang bisnis seragam militer untuk para pehobi game seperti dirinya, dan bahkan prajurit sungguhan.

Di bawah bendera PT Molay Satrya Indonesia, pria yang masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta ini menyediakan berbagai kebutuhan “kombatan” mulai dari topi, baju, celana, tas hingga sepatu. Kecuali sepatu dan tas yang masih diimpor, Arie yang memakai merek Molay Military Uniform Division, memproduksi sendiri semua produk tersebut.

Ide bisnis Arie berawal dari kesukaannya bermain game tempur seperti Counter Strikedan Point Blank. Dari sinilah, pria yang kerap menggunakan nama Molay sebagai identitasnya kala bertempur di dunia maya ini, mendapatkan gagasan untuk membuat seragam militer, baik untuk militer sungguhan maupun orang sipil yang gemar memainkan game perang.

Jangan disangka dirinya mengucurkan modal jutaan rupiah untuk memulai operasinya. Ia hanya menggelontorkan tabungan Rp 280 ribu untuk membeli 4 meter kain. Ia lalu membuat desain dan polanya, sementara proses penjahitan diserahkan ke penjahit yang ada di Pasar Terban, Yogya.

Pada 2009, sampel seragam tersebut kemudian difoto dan diunggah ke forum maya Kaskus. Ternyata ada yang merespons. Seorang kolektor tertarik memesan seragam serupa. Dari sinilah pesanan terus mengalir. Hingga akhirnya dari setiap desain yang dibuat, Arie membanderol Rp 560 ribu hingga di atas Rp 2 juta. “Saya memang membanderol harga yang tinggi karena bahannya benar-benar yang dijamin bagus,” ungkap kelahiran Pekanbaru 31 Maret 1990 ini.

Untuk menjaga loyalitas pelanggan, Arie mengaku benar-benar menjaga kualitas. Mulai dari benang, risleting dan kancing baju diperhatikan betul kualitasnya. Bahkan, untuk pembuatan lubang kancing baju dan celana, ia harus membeli mesin khusus yang harga bekasnya saja di atas Rp 30 juta per unit. “Mesin jahit yang kami gunakan semua standar mesin jahit untuk militer,” ujarnya.

Arie tidak mau menggunakan bahan yang ada di pasar dan lebih memilih memesan khusus ke produsennya. Sebagai contoh, kain yang digunakan banyak yang diimpor seperti dari Malaysia. “Kami hanya pesan kainnya di Malaysia, untuk proses jahit tetap kami yang melakukan,” tuturnya.

Seragam militer, menurut Arie, memiliki peran penting untuk melindungi pemakainya saat menjalankan tugas. Karena itu, kesempurnaan menjadi syarat wajib. Tak jarang, ia harus berkorban untuk tidak mengirim produk yang dianggapnya gagal dalam proses produksi.

Uniknya, Arie tidak memiliki latar belakang dunia konveksi. Ia belajar secara otodidak dari dunia maya. Mulai dari pengetahuan soal bahan hingga mencari pemasok, ia dapatkan dari Internet. “Dengan para vendor kami belum pernah tatap muka, semua menggunakan jasa online,” kata bungsu dari empat bersaudara ini.

Dilihat dari tren perkembangan omsetnya, pertumbuhan perusahaan yang dikelolanya memang menggembirakan. Sebagai gambaran, pada masa awal, Molay baru membukukan omset puluhan juta rupiah per tahun, lalu berkembang menjadi ratusan juta. Tahun lalu, ia sukses menembus angka Rp 1,5 miliar per tahun. “Alhamdulillah, perkembangannya sangat positif,” ujarnya.

Selama ini, Arie menjual produknya lewat jalur online baik melalui Facebook maupun Twitter. Menurut Arie, jalur maya masih menjadi pilihan yang menarik untuk memasarkan produknya. Toh, nyaris semua pelanggan yang kini diraihnya juga didapat lewat jalur tersebut. Kalau pun produknya bisa ditemukan di beberapa toko seragam militer, itu dilakukan pihak lain. Memang, sampai kini, ia belum berniat membuka toko fisik.

Produk seragam Arie kini juga sudah digunakan di beberapa institusi militer dan kepolisian di dalam negeri. Misalnya Brimob, Gegana Polri, dan pasukan elite milik TNI AL. Sementara untuk pasar luar negeri masih didominasi pelanggan personal.

Walau sudah ada perusahaan besar, sebut saja Sritex, yang menguasai pasar seragam militer di dunia, Arie mengaku tidak berkecil hati. Ia melihat potensi pasar seragam ini masih terbuka lebar. “Secara manufaktur, Sritex memang unggul, tapi secara desain kami siap diadu,” ucap finalis kontes bisnis Wirausaha Muda Mandiri 2011 dari Yogya itu.

Dengan keberhasilan bisnisnya, Arie kini tidak lagi bergantung pada kiriman dana dari orang tuanya di Pekanbaru, plus tidak pernah telat bayar kos lagi. Bahkan, ia memiliki mobil pribadi dan sebentar lagi ia akan membeli rumah yang kini digunakannya untuk kantor. “Bulan ini kami akan pindah ke kantor yang lebih representatif, bekas kantor ini akan saya beli,” ucapnya.