Yansen Kamto. Seorang CEO dari PT Kibar Kreasi Indonesia yang pada Selasa sore tanggal 29 September 2015 ini kami ajak untuk diskusi dalam forum bernama Meet The CEO, salah satu agenda rutin dari StudentsxCEOs. Pria kelahiran Pontianak, 3 Agustus 1981 ini merupakan lulusan dari University of Technology Sidney, Australia. Sedangkan PT Kibar Kreasi Indonesia ini didefinisikan oleh beliau sebagai organisasi yang pada aktivitas yang mendorong generasi muda untuk berkarya.

Beliau mengawali karirnya di tahun 2003 di salah satu agen periklanan. Pada tahun 2009 sampai 2010, Yansen Kamto mendapatkan proyek periklanan dari salah satu perusahaan rokok di Indonesia yang meminta untuk membuatkan iklan agar orang yang tidak merokok supaya ikut merokok. Di tangan seorang Yansen Kamto, iklan tersebut sukses mendongkrak popularitas rokok tersebut di saat produk rokok yang lainnya sedang menurun pamornya. Beliau mulai memikirkan mengenai nilai moral dari hasil pengerjaan proyek periklanan tersebut.

Suatu ketika, beliau bertemu dengan seorang biksi dan menceritakan terkait proyek periklanan rokok tersebut ke biksu. Lalu biksu itu menjawab “Kalau kamu melakukan hal itu untuk survive, do it. Tapi kalau kamu bisa memilih melakukan yang lain, don’t do it.” Di lain kesempatan dia bertemu dengan teman yang notabene lulusan terbaik dari salah satu universitas terbaik di Indonesia yang membanggakan bahwa dia berhasil menaikkan produksi di perusahaan tambang emas di Papua hingga 2x lipat tiap bulannya. Hal ini sama saja dengan mempekerjakan pekerja yang merupakan warga asli untuk bekerja lebih keras lagi. Beliau pada akhirnya mengambil kesimpulan bahwa PINTAR SAJA TIDAK CUKUP! MILIKILAH HATI!

Diputuskan pada tahun 2011, Yansen Kamto keluar dari pekerjaannya dan memulai membangun startup bernama Kibar. Perusahaan ini diawali dengan membuka kantor di foodcourt, yang kemudian pindah ke kamar 2×4 meter. Tetapi kini PT Kibar Kreasi Indonesia telah memiliki kantor di Menteng dengan luas 700 m. Bahkan saat ini beliau sudah memiliki beberapa belasan perusahaan yang memiliki visi yang sama dengan visi dari PT Kibar Kreasi Indonesia. Salah satunya adalah Ziliun.com yang didefinisikan oleh beliau sebagai media untuk merubah mindset para generasi muda  dengan cara why and how to start entrepreneur dan kegagalan yang dialami dalam proses menjadi seorang entrepreneur.

Beliau memiliki beberapa pengalaman membangun usaha yang selalu didampingi dengan partner. Tahun 2006 – 2007, beliau pernah membangun bisnis yang malah bangkrut karena dananya dibawa kabur oleh partnernya. Baru kemudian pada tahun 2010, beliau memulai untuk menjalankan bisnis bersama partner baru. Beliau menyarankan partner yang layak dipilih adalah partner yang memiliki ilmu bisnis, keahlian di  bidang IT (coding), dan desain. Maka dari itu  dibutuhkan 3 bagian itu untuk mempermudah proses pengerjaan startup terutama yang bergerak di bidang teknologi informasi. Beliau juga memberitahu bagaimana cara mengetahui keahlian yang kita miliki secara individu yaitu dengan menanyakan ke 3 teman terdekat kita dan menanyakan mengenai kelebihan yang kita miliki. Hal ini akan lebih mudah untuk mendefinisikan kelebihan kita dibanding hanya menilai diri kita sendiri dari sudut pandang orang pertama.

Yansen Kamto dikenal sebagai seorang CEO yang nyentrik dengan gaya pakaiannya yang dimanapun selalu memakai kaos hitam dan celana pendek. Bahkan saat bertemu dengan pejabat sekalipun, beliau tetap menggunakan outfit yang sama. Suatu ketika, beliau diundang seminar di salah satu universitas di Yogyakarta dan beliau malah diusir satpam dengan dalih menggunakan celana pendek.

Kepedulian beliau terhadap generasi muda Indonesia inilah yang membuat PT Kibar Kreasi Indonesia banyak bekerja sama dengan beberapa stakeholder yang juga peduli dengan entrepreneurship generasi muda, sebagai contoh adalah UGM. Sebagai the only Google partner di Indonesia, beliau menyediakan layanan Gmail untuk digunakan sebagai hosting email UGM. Beliau menyampaikan bahwa dengan adanya layanan ini, maka mahasiswa UGM dipermudah dalam proses mengembangkan aplikasi dan penggunannya.

Beberapa perusahaan yang dipimpin oleh beliau ini memiliki sudut pandang yang berbeda dalam hal kompetisi. Mereka lebih memilih untuk berkolaborasi dibandingkan melakukan kompetisi. Salah satunya adalah Ziliun.com yang merupakan media online yang bergerak di bidang informasi. Ziliun tidak bersaing dengan media besar lainnya seperti Detik.com, TV One, Kompas TV, dll. Justru Ziliun berkembang dengan melakukan kolaborasi dengan media-media besar tersebut dengan cara sebagai sumber berita yang nantinya akan ditampilkan oleh media lain yang berkolaborasi dengan ZIliun.

Sama halnya dengan Kreavi.com, jejaring sosial yang mewadahi para desainer untuk unjuk gigi kemampuan desain mereka dan menjadi media bertukar informasi untuk para desainer. Tujuan Yansen Kamto membuat Kreavi.com ini adalah untuk mengangkat derajat para desainer yang selama ini dipandang sebelah mata dan dianggap bahwa desain itu sesuatu hal yang murah. Melalui Kreavi.com, beliau berhasil mengumpulkan dan mewadahi 30.000 desainer. Beliau tidak hanya menciptakan suatu produk, tetapi menciptakan solusi. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa seorang Yansen Kamto mampu mengembangkan beberapa perusahaannya dengan baik.

Dalam diskusinya, beliau melontarkan kalimat pesan. “Kalian sering bertemu dengan para CEO kan? Coba tanyain ke mereka, ‘Kalau kamu mati, ingin dikenal sebagai apa?’.” Beliau menekankan kepada generasi muda agar tidak serta merta mengejar uang. Jadilah manusia yang punya value lebih untuk kesejahteraan manusia yang lain. Beliau mengatakan tidak peduli seberapa kaya atau seberapa pintar kalian. Jika tidak punya hati, maka tidak ada gunanya karena tidak memiliki value yang berguna bagi orang lain.

Beliau menutup diskusi MTC kali ini dengan memberikan statement kepada generasi muda Indonesia. “Hidup itu harus punya arti dan hati. Jadilah manusia yang memiliki value. Bukan seberapa kaya dirimu tetapi seberapa besar perubahan baik yang kamu berikan untuk Indonesia. ”

Quotes:

“Kamu mati ingin dikenal sebagai apa?”

“Bisnis harus ada partner. Carilah partner yang memiliki visi yang sama.”

“Jadilah manusia yang memiliki value.”

“Hidup harus punya arti bagi kehidupan manusia yang lain.”

“Jika ingin berkembang cepat, jangan bersaing dengan penguasa pasar. Tetapi berkolaborasilah dengan mereka.”

“Katanya StudentsxCEOs?”

“Pinter ga cukup. Punyailah hati!”