Berawal dari warung kaki lima di trotoar Graha Sabha Pramana, Jalan Kaliurang, Yogyakarta, warung ini kini telah memiliki 58 outlet yang tersebar di Indonesia. Adalah Yoyok Heri Wahyono, pemilik sekaligus direktur utama rumah makan Spesial Sambal (SS)  yang berhasil mewujudkan hal itu. Pada 18 Januari 2014 lalu, Yogyakarta representatives StudentsxCEOs bersama beberapa mahasiswa terpilih berkesempatan melakukan diskusi dengan Yoyok.

Perjalanan Karir

Yoyok mendirikan warung kaki lima tersebut kala ia masih menjadi mahasiswa tingkat akhir pada jurusan Teknik Kimia. Ia mengaku bahwa pada saat itu ia sudah tidak ingin melanjutkan kuliah. Akan tetapi, ia tetap ingin lulus. Meskipun, pada akhirnya, ia gagal meraih gelar sarjana teknik karena ambang batas nilai aman tidak terpenuhi.

Model kaki lima dipilih untuk menekan biaya. Meskipun, ia tahu bahwa hal itu menyalahi aturan. Pada awal berdiri, warung itu dikelola oleh enam orang karyawan, termasuk dirinya sendiri. Yoyok langsung membuat struktur usaha dengan rapi, meski hanya sebatas warung sederhana.  Ia juga sudah membuat struktur gaji. Ia memang amat mementingkan detail tiap mengerjakan sesuatu.

Pilihannya untuk total memulai bisnis tentu mendapat pertentangan, terutama dari kedua orang tuanya. Keduanya lebih mengharapkan Yoyok menjadi PNS. Menurutnya, kunci utama agar kedua orang tuanya yakin adalah dengan tidak terlihat menderita. Ia juga menjadikan pertentangan tersebut sebagai motivasi agar dapat membuktikan bahwa hidupnya baik-baik saja, bahkan amat baik.

Yoyok mengaku bahwa ia amat senang memasak. Oleh karena itu, ia memutuskan mendirikan warung makan. Usaha ini memang amat dekat dengan dunianya. Hal inilah yang menyebabkan Yoyok dapat sangat konsisten dalam bekerja karena ia menikmati setiap proses yang dijalani.

Berkat totalitas, kegigihan, kecintaan, kreativitas, dan manajemen yang terpadu, Yoyok berhasil menjadikan SS tumbuh sebagai rumah makan yang selalu dikunjungi oleh masyarakat. Salah satu kuncinya, Yoyok berusaha menempatkan diri menjadi konsumen untuk mengetahui apa yang kira-kira konsumen inginkan.

Bisnis Rumah Makan

Dalam menjalankan usahanya, Yoyok memiliki pandangan bahwa kualitas produk adalah nyawa. Oleh karena itu, ia selalu mengusahakan yang terbaik untuk menjaga kualitas produk yang ia tawarkan. Setiap produk yang dijualnya memiliki Standar Operating Procedure (SOP) tersendiri. Ia tidak mau produknya bermasalah.

Menurut Yoyok, pembeli adalah raja. Karenanya, ia tidak enggan menjadikan nomor ponsel pribadinya sebagai hotline service atas keluhan ataupun kritik dan saran terhadap rumah makannya. Baginya, amat penting membuat pelanggan kembali dan juga menjadi agen promosi secara tidak langsung.

Memulai usaha dari nol menurutnya menimbulkan banyak kebaikan, terutama bagi usaha itu sendiri. Dengan memulai dari nol, seseorang akan banyak belajar karena harus menghidupkan sesuatu dari benih. Hal yang sama terjadi pada Yoyok. Ia selalu belajar dalam setiap proses tumbuh kembang usahanya. Nalurinya menjadi lebih peka.Yoyok mengaku bahwa banyak sekali kemajuan yang dialami SS datang dari kebijakan yang diambil berdasarkan naluri, bukan teori.

Yoyok juga berusaha menjaga spiritualitasnya ketika bekerja, yakni melakukan hal kecil dengan semangat besar. Baginya, spiritualitas amat penting karena dapat menjadi pijakan sekaligus memompa semangat. Proses adalah target yang dimiliki olehnya sekaligus usahanya. Menurutnya yang terpenting bukan tujuan akhir, tapi bagaimana cara melangkah.

Selain mengenali kekuatan inti usaha, Yoyok juga menekankan pentingnya pengelolaan sumber daya manusia. Menurutnya,amat penting menyejahterakan pegawai, baik dari sisi materi, maupun sisi mental.

Sementara itu, Warung SS juga selalu memegang prinsip, yakni terstruktur dan sistematis dalam manajemen usaha. Karenanya, detail amat diprioritaskan di sini. Selain itu, Yoyok juga selalu mengupayakan efisiensi dalam berbisnis. Menurutnya, setiap bisnis harus memiliki orientasi jangka panjang, bukan hanya jangka pendek dan sebatas mengejar profit saja.

Penutup

Kunci utama dari kesuksesannya berbisnis adalah totalitas. Yoyok memilih untuk total di bisnis dan mengabaikan kuliahnya kala itu. Meskipun, hal itu berakibat fatal pada studinya. Namun, ia sangat menganjurkan bagi kita, mahasiswa, untuk total terhadap kuliah terlebih dahulu, baru kemudian total kepada hal lain yang ingin dicapai selanjutnya.

Selain itu, penting untuk berada pada dunia kita. Yoyok berpesan,”Bekerjalah pada sesuatu yang memang menjadi passion. Hal itu akan menjadi modal yang kuat, apalagi ditambah dengan optimisme. Kita akan bekerja dengan senang ketika b ekerja. Yang juga penting adalah modal mentalitas, segala sesuatu tidak mungkin terjadi secara instan. “