Yogyakarta – StudentsxCEOs Yogyakarta kembali menyelenggarakan Meet The CEO yang ke dua pada Jumat, 25 Mei 2019. Acara yang dilaksanakan di EDS Yogyakarta ini mengangkat tema mengenai Directing the Future Towards Cashless Society. Dimulai pukul 16.00 WIB, materi disampaikan oleh Dwi Andi Rohmatika selaku Business Head Payfazz Yogyakarta.

Acara ini diawali dengan pemaparan mengenai industri 4.0 yang mencangkupinternet of things, cyber management, big data, serta artificial intelligence. Tak hanya itu, beliau juga menjelaskan mengenai dunia fintech yang erat kaitannya dengan industri 4.0. Setidaknya ada lima jenis fintech. Pertama, bank fintech yang dioperasikan oleh bank misalnya Mandiri Online. Kedua, payment, clearing, settement yang dapat membantu pembayaran dan atau kliring, contohnya yakni Payfazz dan Doku. Ketiga, e-aggregator yang membandingkan produk finansial, misalnya Cekaja, Cermati, KreditGogo. Keempat, investasi yakni untuk investasi dan manajemen risiko, contohnya Bareksa dan Cekpremi. Kelima, pembiayaan yakni memberikan bantuan pinjaman yang bisa berbentuk P2P dengan mempertemukan investor dengan pencari modal, misalnya saja Modal Rakyat.

Sudah sebaiknya, students menggunakan fintech menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Mengingat fintech menawarkan beberapa manfaat. Diantaranya yakni transparansi informasi keuangan, terjadinya efisiensi, menekan biaya serta bisa menjadi alternatif bank. Namun, masih disayangkan masih banyak students yang kurang “melek” terhadap fintech. Oleh karenanya, ada lima langkah yang dapat dilakukan agar students “melek” terhadap fintech. Pertama, ciptakan inklusi keuangan. Kemudian mulai mencari produk fintech yang cocok dengan kebutuhan yakni dengan melakukan riset produk. Selanjutnya, mulai memikirkan alternatif jika menggunakan fintech. Lalu, mulailah dengan merinci kebutuhan dalam jasa keuangan. Terakhir, sadarlah bahwa industri keuangan sudah berubah dan tidak hanya dimonopoli oleh bank.

Sebagai contoh penggunaan Fintech untuk students yakni pembiayaan kredit dengan mencari skema kredit peer 2 peer misalnya Modal Rakyat. Kemudian menggunakan payment Fintech untuk belanja atau payment untuk harga yang lebih hemat, misalnya saja Payfazz. Selain itu juga dengan menggunakan produk-produk fintech untuk berinvestasi.

Perlu diingat bahwa hadirnya industri 4.0 yang erat kaitannya dengan fintech bukan berarti tidak membawa tantangan dan ancaman. Digitalisasi yang merupakan salah satu sifat dari revolusi industri 4.0 ini dapat menggeser peran konvensional. Salah satunya yakni akan ada pekerjaan yang terancam hilang. Contohnya penjaga wartel atau teller bank. Namun dilain pihak muncul pekerjaan-pekerjaan baru, misalnya vlogger dan social media manager. Oleh karenanya, untuk menghadapi disruptif teknologi yang begitu cepat ini dibutuhkan skill yang tidak bisa tergantikan oleh teknologi. Skill tersebut diantaranya cognitive analytics, content skills, social skills, physical abilities, process skills, resource management skills, systems skills, complex problem solving skills, and technical skills.

Beberepa peserta pada Meet The CEO yang kedua

Diterangkan pula oleh Business Head Payfazz Yogyakarta, Dwi, bahwa diperlukan sebuah langkah atau step yang tepat, diantaranya start small, take lead, eager to grow, dan pro customer. Langkah-langkah tersebut dapat membantu kita untuk melanjutkan ke step berikutnya. Hal tersebut dapat diterapkan dalam berbisnis yaitu untuk menghubungkan interkoneksi data, mendapatkan koneksi dengan manusia yang lebih luas serta menemukan nilai dari sebuah solusi.

Di akhir acara Meet The CEO yang kedua ini, Payfazz yang merupakan platform layanan keuangan berbasis digital memberikan tips dalam memanfaatkan sebuah data. Pertama, kumpulkan data sebanyak mungkin. Data dapat membantu untuk mengenali pola bisnis. Kemudian kumpulkan sebanyak-banyak indikasi dari data-data tersebut. Kedua, gunakan cara berpikir yang tepat untuk memecahkan masalah. Dalam hal ini kita perlu melakukan design thinking agar tidak hanya terfokus pada masalah tersebut. Melainkan kita dapat bersikap lebih terbuka sehingga dapat menemukan cara yang lebih kreatif dan maksimal dalam memecahkan masalah. Terakhir, terbuka untuk mengadopsi dan menerapkan teknologi baru.